Jumat, 08 Juni 2012

MY DestiNy


My Destiny

Jika kamu bertemu dengannya
Jantungmu akan berdetak lebih cepat
Hatimu seakan bergemuruh kencang
Semua pikiran dan teori di otakmu hilang
Yang kau tahu saat itu,,
You’re my destiny...

“Kamu akan tinggal bersama Ayah, Flo.”ucapan seorang lelaki paruh baya tak membuat gadis manis itu berpaling dari tatapannya. Dia masih menatap nisan di depannya, matanya yang agak bengkak tak terlihat karena memakai kaca mata hitam. Tapi air matanya masih saja terus menangis.

Tempat terakhir orang yang disayanginya membuat dia benar-benar terpukul. Seorang Ibu yang membesarkan dirinya dengan banyak cinta kini sudah menghilang dari jangkauan pandangannya. Hanya kesedihan yang melanda di dirinya. Benar-benar terpukul wajah gadis manis yang tak bergeming meski langit menampakn rasa prihatinnya.

“Ayo sayang, sebentar lagi hujan.”ucapan dari orang yang sama dan sikap yang sama pula di tunjukan gadis manis itu. “Aku masih ingin disini. Anda bisa tinggalkan aku sendiri.”

Kalimat gadis itu diucapkan dengan sangat lirih. Rasanya ingin mendekat anak perempuannya itu di tempat itu juga tapi apa daya, seorang wanita di sampinya menarik lelaki paruh baya itu untuk segera menjauh. Dan mengajaknya ke arah mobil.

“Apa kamu yakin akan mengajaknya tinggal bersama kita?”ucapa wanita itu saat di mobil.

“Dia anakku juga, apa salah dia tinggal bersamaku?”balasnya dengan wajah dingin.


“Tapi aku bukan ibunya dan aku tidak suka tinggal serumah dengan orang asing.”

“Aku sudah menuruti maumu. Tidak bisa sedikit saja kau hormati keputusan suamimu ini.”

 Hujan turun dengan derasnya, tanpa sedikit permisi atau memperingatkan. Tak membuat gadis manis itu bergeming dari tempatnya. Mungkin inilah kesedihannya yang sangat mendalam. Dia menyesal belum bisa membuat Ibunya bahagia. Belum bisa memberikan hadiah apapun untuk Ibunya tepat saat ini Ibunya ulang tahun. Hari dimana Ibunya dilahirkan dan juga Ibunya meninggalkannya untuk selamanya.

“Mah, apa aku harus tinggal dengan orang yang membuatmu selalu menangis?”

Setahun datang dengan cepat.

Tepat hari ini Flora dan ketiga temannya sedang merayakan kelulusannya. Semua bersorak sorai ditaman yang kini riuh dengan suara cempreng Reina dan Eirin. Mereka memang suka berteriak kalau sedang senang. Tak perduli dengan lingkungan taman yang ramai.

“Ayo kita minum sodanya.”ajak Reina sambil mengangkat minumannya pertanda untk cheers. Dan semua temannya mengikuti dengan senang hati.

“Sukses buat Eirin yang bisa up setelah putus dari pacarnya.”

“Buat Reina yang akan melanjutkan sekolahnya keluar kota.”

“Untuk Gisel yang akan bertunangan.”

“Untuk kebahagian Flora kedepannya.”

Flora menatap sendu ketiga temannya. Dia menitikan air mata dengan ucapan kompak teman-temannya tanpa ada aba-aba sebelumnya. Semenjak kepergian Mamanya, dia memilih tinggal di asrama. Beruntung disana ada Eirin yang sekamar dengannya. Dan membuat Flora bisa menatap maju ke depan.

“Jika sedang bahagia. Jangan menangis. Kau cengeng sekali Nona.”ucapan seorang cowok yang baru datang membuat semua gadis itu mencari asal suara. Dia menatap cowok dengan kulit putih yang tanpa disentuh pun bisa terasa sangat lembut. Matanya menatap Flora sangat dalam. Tingginya lebih dari rata-rata dari cowok seusianya. Ia berjalan mendekati Flora dan memeluknya.

“Maaf aku baru kembali.”katanya lagi dan memeluk Flora lebih erat lagi.

“Kau curang. Aku yang adikmu malah tidak kau peluk.”kata Gisel dengan nada cemburu. Cowok ini adalah sepupu Gisel. Flora dan Gisel adalah teman sejak kecil. Vian, nama cowok yang kini memeluk Gisel dan mencium keningnya. Ia kemudian memberikan senyuman termanis untuk dua teman sepupunya yang lain.

“Bahagia itu juga bisa menangis, Tuan. Ku kira akau lupa dengan kami disini.”

“Hahahha.. kau tidak ahli berbohong Nona. Aku kembali untukmu.”

“Ish.. kau tidak berubah. Selalu seperti ini.”

“Aku tidak akan berubah Nona untuk terus mencintaimu.”

Dengan cepat Vian memeluk Flora lebih erat lagi. “Kau tak merindukanku? Padahal aku sudah mengharapkan kamu menciumku setelah pertemuan ini.”bisiknya pada telinga Flora. Dengan cepat Flora melepas pelukannya dan menunduk. Wajahnya jadi memerah akibat ulah Bad boy ini.

“Aku tahu kalian sedang melepas rindu. Tidak bisa kah anggap kami ada walau sebentar.”ledek Reina karena dia dan temannya yang lain merasa tak di anggap keberadaanya. “Seharusnya kau punya pacar Nona Reina. Biar tidak menggangguku.”ejek Vian sambil tersenyum licik.

“Hei kau.. Tuan Khavian berhenti mengejekku.”teriak Reina sambil mengejar Vian yang menjauh dari jangkauan tangannya.

Ketiganya gadis yang lain tertawa melihat kedua orang yang disayanginya seperti kucing dan anjing. Tak akan ada waktu seperti ini lagi, karena mereka akan berpisah di tempat ini. Mereka akan melanjutkan sekolah mereka di tempat yang berbeda-beda.

$$##my_destiny$$##
“Perjodohan? Kakek kira aku tak bisa mendapatkan gadis manapun dengan tanganku sendiri.”

“Kakek yakin tidak. Berhentilah teriak, Kakek tidak tuli.”

“Aku tau Kakek tidak tuli tapi Kakek tidak peka.”

“RYUJII... Kakek akan membuatmu mau menerimanya.”

“Itu akan membuat Yuji menjauhimu, Pah.”ucapan seorang wanita dengan menatap lembut Ayahnya. Dia tahu bagaimana watak Papa dan anak laki-lakinya itu. Sifat yang sama dengan usia yang berbeda jauh.

“Kau harus membantuku untuk menurutinya.”paksa sang Ayah menatap wanita di hadapannya. Kemudian berlalu meninggalkan meja makan itu. Tanpa menghiraukan ucapan ayah, wanita itu melanjutkan makannya yang tertunda. “Ahra... jangan mengecap saat makan, Oma tidak suka sayang.”

Gadis kecil yang disebelahnya mendengar dengan seksama dan mempraktekannya. Gadis kecil itu menuruti permintaan Omanya dengan tersenyum. Sang Oma membalas senyumnya dengan saat lembut. Terlihat dari matanya bahwa dia sangat menyayangi cucunya. Cucu pertamanya yang sangat manis. “Kau sangat cantik seperti Mamamu sayang.”katanya lembut.

“Oma. Apa Papa akan pulang cepat?”

“Hmm.. kau buat pulang cepat saja, sayang. Bagaimana?”

“Nggak. Papa pasti akan sibuk dengan laptopnya dan tidak memperdulikanku.”


“Baik. Oma yang akan menyuruh Papamu mengajakmu main. Sekarang kita ke sekolah yah.”

Gadis kecil itu tersenyum manis. Wajah malaikatnya itu membuat siapapun tidak akan mau berkedip. Usianya baru 4 tahun. Karena keadaan yang tidak memungkinkan, dia lebih dekat dengan Omanya.
$$##my_destiny$$##

“Permisi. Benar disini rumah Bapak Doni Erlangga.”

“Kau siapa?”

“Flora. Aku ingin bertemu dengannya.” “Tunggu sebentar.”

Sudah 4 menit berlalu, namun gerbang coklat itu tidak kunjung terbuka. Sebenarnya gadis itu enggan bertamu, namun karena satu alasan. Ia harus datang sendiri kesini, semula ia ingin ke kantor saja. Tapi yang ia punya hanya alamat rumahnya saja.

Dengan perlahan gerbang itu terbuka. Dan seorang wanita paruh baya menyuruhnya masuk dan menyuruh gadis itu duduk menunggu majikannya datang. Sedikit miris melihat sekitarnya. Dulu, dia juga pernah tinggal disini namun itu tak berlangsung lama.

“Mau apa datang kesini?”kata wanita itu ketus. Dia mendekati wajah itu tidak suka dan duduk di sofa coklat itu tanpa menyuruh gadis itu duduk.

“Apa Pak Doni ada?”jawab gadis itu tegas. Dia tetap berdiri dan tak berminat untuk duduk.

“Mau apa bertemu dengan suamiku?”

“Aku ada urusan dengan beliau bukan dengan anda nyonya.”

“Apa wanita kampungan itu tidak mengajarimu untuk sopan santun terhadap orang yang lebih tua.”

“Mamaku sangat mengajarkan sopan santun sayangnya sikap anda yang membuat hormatku hilang. Kalau beliau tidak ada saya permisi.”

“Aku punya penawaran untukmu.”

“Kau kesini ingin meminta tanda tangan wali untuk melanjutkan beasiswamu itukan? Aku akan menjadi walimu. Hanya saja kau harus mau terima syaratnya. Aku akan menjamin semua kehidupanmu.”

“Apa maksud anda, nyonya?”

“Untuk IQ sepertimu kau pasti mengerti.”

“Syarat apa yang anda ajukan nyonya.”

“Kau harus menikah dengan laki-laki yang aku pilihkan. Menarik bukan, aku bahkan sudah menentukan jodoh untukmu meski kau bukan anakku.”

“Kau ingin menjualku?”

“Terserah kau menganggap apa? Tapi aku tau tenggang waktu pengembalian itu besok sementara Ayahmu kembali dari luar negeri minggu depan.”

“Kenapa kau menawarkannya padaku.”

“Aku hanya ingin kau pergi dari kehidupan suamiku. Tawaran ini menarik bukan, kalau kau menolak aku rasa keinginanmu sekolah disana harus pupus, Nona FLORA.”

Pilihan yang sulit untuk Flora. Bagaimana tidak? Dia hanya punya Ayahnya di dunia ini, semenjak Mamanya meninggal, tidak ada sanak saudara yang bisa membantunya. Sedangkan cita-citanya untuk menjadi seorang arsitek adalah janjinya pada Mamanya.

‘Apa dia mau menjualku? Setelah menelantarkanku sekarang mengambilku tapi untuk dijual. Ayah macam apa dia?’gumam Flora saat dijalan. Dia tidak mengenal Ayahnya. Saat usianya 4 tahun, Ayah dan Mamanya bercerai. Sejak itu dia tak mengenal sosok Ayah dihidupnya.

Tiiinnnn....tiiinnnnn

Suara klakson yang keras tak membuat Flora tersadar dari lamunanya. Ia berjalan tak tentu arah, hampir saja membuatnya kehilangan nyawa. Kalau bukan karena tarikan tangan seseorang dia sudah berlumur darah. “Kalau kau ingin bunuh diri, tolong Nona jangan saat ada aku.”ucap cowok itu. Tanpa jawaban Flora pingsan.

“Dimana kau temukan dia, Rio?”

“Dijalan. Apa Mami kenal dia? Sepertinya aku familiar dengan wajahnya. Jangan bilang dia ...”

“Flora. Anak dari Papimu dengan wanita lain.”

“Pantas saja, wajahnya familiar. Sepertinya dia dari rumah kita Mam.”

Sinar matahari pagi mengintip ke sela-sela korden di kamar gadis itu. Membuatnya terbagun dengan agak malas. Di rentangkan badannya, kemudian melihat ke sekililingnya. ‘Dimana ini? Ini bukan kamar kostku. Tunggu ,, kemarin aku ..’

“Sudah bangun? Sepertinya sudah sehat.”sapa cowok itu dengan lembut. Sejak semalam ia menungguinya meski Maminya memaksa dia tidur di kamarnya sendiri.

“Kau ... kau siapa?”tanya Flora dengan wajah bingung dan takut.

“Salam kenal, aku Mario Erlangga. Sudah lama ingin bertemu denganmu Kak Flora.”balasnya lembut.

“Darimana kau tahu namaku.”

“Kita mempunyai Ayah yang sama meski Mami kita berbeda.”

Flora tertegun mendengar jawaban cowok itu. Jadi cowok ini anak Ayahnya dari wanita itu. tidak beberapa lama wanita itu berdiri di pintu. “Sudah bangun? Kau sudah membuat anakku menunggumu.”

“Mami. Aku yang salah. Jadi wajar aku bertanggung jawab.”

“Dia yang jalan seenaknya sayang. Kau masih berminat dengan tawaranku. Kau tahu kan ini batas akhir. Dan 2 jam lagi akan ditutup.”

“Tawaran apa Mami? Akh.. jangan bilang tentang perjodohan itu?

“Iya. Jangan menentang Mami, Rio.”

“Mami. Mami menjodohkan dia dengan Yuji? aish.. Mami tega Kakaku ini dijodohkan dengan cowok dingin itu.”

“Apa perduli Mami. Dan jangan bilang dia Kakakmu.”

Flora hanya diam mendengar keduanya bersiteru. Ingin rasanya Mamanya hadir, dia sangat rindu dengan Mamanya. Bisa bercanda, tertawa bahkan bertengkar seperti itu. “Jangan ikut campur urusan Mamimu...”

“Aku setuju nyonya.”kataku  lirih memotong pembicaraan mereka. Keduanya menatapku dengan tak percaya, aku tak perduli dengan cowok dingin yang dibilang Rio itu. aku hanya ingin mewujudkan janjiku pada Mama. Itulah yang ada dipikiran Flora.

“Bagus. Mana suratnya akan ku tanda tangani.”

“Kak, kau jangan gila. Kau mau masa depanmu suram menikah dengan orang yang gak kau kenal.”

‘Jangan memperkeruh keadaan.”

“Itu karena Mami mendesaknya.

Wanita itu pergi dengan senyum kepuasaan. Dia membawa satu berkas untuk diserahkan ke salah satu kampus terkemuka di kota itu. Dia menyuruh Flora untuk tinggal sampai Ayahnya pulang dan membicarakan pernikahan itu.

Sementara itu Flora hanya menitikan air mata. Dia menangis dalam diam sambil matanya menerawang jauh ke depan. Saat ini dia berdiri di balkon. Dan melihat taman belakang yang indah tertata rapi disana. Sudah sangat jelas kalau taman itu terawat.

“Seharusnya jangan menerima tawaran Mami.”kata Rio yang bersender di tepi balkon. Dia menatap Flora kagum. Baru kali ini dia bisa bertatap muka dengan seorang yang paling dikaguminya. “Meski tadi masih 2 jam, aku bisa membantumu.”

“Kau kenal dengan orang yang dijodohkan denganku?”

“Sangat kenal. Dia cucu dari rekan bisnis Papi. Calon seorang Dokter.”

“Dokter? Apa usahanya jasa pelayanan?”

“Ya. Kakeknya punya RS ternama disini.”

“Begitu. Apa usianya sudah tua?”

“Hahahhahah.. tenang saja, aku rasa usianya baru sekitar 23 tahun.”

“Kenapa tertawa? Ada yang lucu?”

“Hmm.. kau takut dijodohkan dengan orang jompo yah? Hahahahha...”

“Dia tampan dan mempesona. Menurut semua wanita yang menatapnya, aku setuju dengan itu. Dan dia juga memilik anak yang sangat manis.”

“Hah??? Jadi dia sudah punya anak?”

“Kenapa?? Anaknya masih umur 4 tahun. Istrinya meninggal saat melahirkan anak itu. Mereka menikah muda karena tuntutan keluarga wanitanya. Tapi hubungannya dengan anaknya renggang. Anak itu diasuh oleh Omannya.”

Seminggu berlalu...

Dihadapan Flora sudah ada keluarga yang akan dijodohkan untuknya. Semula Ayahnya terkejut tahu bahwa putrinya itu setuju. Dia menatap sendu anak perempuanya. Dia merasa bersalah pada gadis manis di sampingnya. Sementara Flora sedikit tersenyum melihat gadis kecil di pangkuan Omanya. Gadis itu berbalik tersenyum padanya.

Hasil kesimpulannya adalah pernikahan mereka akan di selenggarakan bulan depan. Kecewa! Tergambar jelas dimatanya. Dia tidak bisa menentang dan tak mau menjalaninya. Meski ucapan Rio benar, tetap saja cowok itu selalu dingin saat menatapnya.

Sesampainya dirumah, Flora menangis sesegukan. Ia tak menyangka takdir membawanya ke tempat yang tidak pernah dia duga.

Drrtttt ... Drttt

From   : MyVian
Kau tak mengabariku seminggu ini? Kenapa? Apa kau sakit?

Sedetik kemudian air mata Flora membasahi pipi chubbynya. Dia bingung harus berbuat apa? Apa yang akan dia katakan pada Vian tentang ini? Dia tak tega melukai orang yang mencintainya dengan sepenuh hati.

Flora POV

Kenapa sebulan begitu cepat? Dan kenapa aku tak ada perlawanan tentang rencana bodoh ini! Tolong Tuhan, beri tahu Vian dan bilang padanya bawa aku pergi. “Nona jangan menangis terus make up nya bisa hilang.” Aku tak perduli ucapan penata rias itu. Dia tak tau sakitnya perasaanku?

Saat kau perlu pengakuan dari seorang Ayah? Dia menelantarkanmu! Sekarang dia membawamu ke sisinya hanya untuk dijual? Ya. Aku DIJUAL kepada rekan bisnisnya yang sudah mempunyai anak.

Setidaknya aku masih bisa kuliah dengan mewujudkan janjiku pada Mama. Itu alasanku bertahan. Wanita itu! yak, dengan teganya tersenyum puas melihatku. Dia tak punya hati, meski aku tahu kedua anaknya berhati lembut tapi kenapa di dirinya ada devil. Aku memakinya dalam diam.

Acara sakral itu berjalan dengan lancar, kenapa Tuhan menakdirkanku dengan seperti ini? aku menahan tangisanku. “SAHHH”. Kata itu malah membuat air mataku turun. Aku menghapusnya perlahan.

“Mulai sekarang, panggil aku Mami yah. Kau kan menantuku. Nah, Ahra panggil dia Mama. Ahra punya Mama sekarang.”kata mertuaku saat di ruang tamu.

Setelah acara itu, mereka membawaku ke rumah kayu berlantai dua. Terlihat rapih dan tertata indah. Ini rumah yang aku cita-citakan dulu. Rumah masa depanku. “Mama..”sapa gadis kecil di depanku. Dia menatapku dengan sangat lembut. Benar-benar wajah angel. Aku hanya tersenyum menatapnya.

“Flora... apa Mami bisa menitipkan Ahra disini? Mami harus keluar kota nanti malam.”tanya mertuaku dengan lembut. “Ahra kan anakku Mam. Dia akan tinggal bersamaku.”kataku dengan lirih.

Usiaku baru 19 tahun di tahun ini. Tapi aku sudah mempunyai anak usia 4 tahun yang harusnya dia sebagai adikku. Rasanya benar-benar aneh.

“Baiklah. Mami harus bersiap dulu. Nah, Ahra jangan nakal yah sama Mamamu.”

“Iya Oma. Bye.”

Kepergian mertuaku membuat hening rumah ini. Aku menyuruh gadis kecil itu mandi. Sepertinya dia tak manja dan sudah mandiri. Aku tak perduli dengan keluarga yang menjualku. Mereka sudah pergi setelah 14 menit sampai dengan alasan yang jelas tak ingin berhubungan denganku lagi.

“Papa. Jangan maen game terus. Ayo ajari aku berhitung.”

“Ahra... kau sudah mempunyai Mama. Kau bisa belajar dengannya sekarang.”

“Aku mau dengan Papa saja! Apa tidak boleh?”

“Baiklah. Tapi harus ada imbalannya”

“Apa?”

“Ayo cium Papa.”

Iri rasanya pada gadis kecil itu, dulu saat aku seusianya aku tak bisa seakrab itu pada Ayahku sendiri. Air mataku menetes lagi tanpa bisa ku bendung. Aku duduk di sofa ruang tamu, menutup mukaku dengan kedua telapak tanganku. Rasanya benar-benar sakit di buang seperti itu oleh Ayah kandung sendiri.

Aku benar-benar tidak bisa membendungnya lagi, aku menangis sesegukan. Meski suaranya sudah aku pelankan agar tidak terdengar oleh mereka. “Mama kenapa menangis?”suara lembut itu membuatku berhenti menangis dan menatap wajah angelnya. “Maaf yah, Ahra tida mengajak Mama tadi.”

Aku hanya menggelengkan kepala, suaraku enggan keluar. Dia menghapus air mataku dan mengecup pipiku. Aku hanya terkejut dan menatapnya dalam. “Jangan menangis lagi ya, Mah.” Dengan cepat aku memeluknya. Terimakasih Tuhan, setidaknya kau memberiku litle angel untuk menghiburku. Aku memeluknya erat dan dia membalasnya juga.

“Mulai hari ini jangan pergi dariku yah.”

END Flora POV

“Mama... dimana dasiku?? Aku tidak melihat ikat pinggangku. Aku lupa menaruhnya dimana?”

Suara lengkingan Ahra membuat konsentrasi Flora buyar. Seminggu berlalu tentang kejadian di ruang tamu itu. “Ahra.. sejak kapan kau cerewet? Kau lupa menaruhnya kenapa Mamamu yang disalahkan.”suara Yuji membuat Ahra diam.

Yuji heran dengan gadis kecilnya itu, dia akan lembut dan anggun jika bersama Omanya, kenapa dengan wanita yang baru seminggu jadi ibunya Ahra sudah bersikap berbeda. Yah, Yuji kenal baik anaknya. Ahra akan bersikap semaunya jika sudah akrab dengan orang yang disayanginya. Jadi dia tak akan mau bersikap anggun seperti pada Omanya.

“Ini semua sudah.. tunggu sebentar, aku mau ambil tasku dulu. Kita bersama ya berangkatnya.”kata Flora yang kembali ke kamarnya dan membawa dua tas yang terlihat sangat berat. “Kita naik apa Mah?”tanya Ahra bingung. Seminggu yang lalu dia masih naik bis sekolahnya.

“Hmmm... naik bis aja yah.”kata Flora polos. “Tapi kau nanti telat.”jawab Flora sendiri

Ahra dan Yuji hanya menggelengkan kepala. Dibalik sikap patuhnya itu kadang sikap Flora lebih kekanakan dibanding Ahra. “Naik mobil Papa, Mah. Ayo cepat.”tarik Ahra ke arah mobil Papanya.

Dhaaa.... lambaian tangan Ahra terakhir saat dia masuk ke dalam sekolahnya. Sementara Flora merapikan tasnya dan berniat keluar mobil. “Kau mau kemana?”tanya Yuji.

“Kitakan beda arah. Aku akan naik bis.”jawab Flora yang merapikan kertas-kertas yang hampir berserakan. Dan dengan cepat keluar mobil Yuji kemudian berjalan ke arah halte.

RYUJI POV

Benar-benar gadis polos? Dia bisa panik kalau terjadi apa-apa pada Ahra. Dia siapa? Aku yang membuat Ahra ada di dunia ini saja, tidak sepanik itu!

Dia tak pernah bertanya jika tak ku tanya! Kadang dia berbicara hanya seperlunya saja! Tapi kenapa aku jadi tidak suka di perlakukan sepertini ini.

Aku hanya diam memandangnya dari jauh. Aku tahu alasannya. Kenapa dia menikah denganku karena Rio yang secara terbuka mengatakannya.

Flashback on

“Jangan sakiti hati dia.”

“Siapa yang kau maksud?”

“Kakakku yang dijodohkan untukmu!”

“Hah. Sejak kapan kau punya Kakak perempuan?”

“Dia bukan Kakak kandungku.Dia anak Papi yang lahir dari wanita lain dan usianya lebih tua dariku. Meski Mami memarahiku tapi aku menganggapnya Kakakku.”

“Ayahmu selingkuh?”

“Mungkin. Kurasa cukup Papi dan Mami yang melukai hatinya. Setidaknya jika kau tidak mencintainya, jangan sakiti dengan sikapmu yang dingin.”

“Kau menyuruhku Tuan Erlangga.”

“Bukan. Tuan Ryuji Mahesa aku mengancammu. Mengerti.”

End Flashback

Senyuman itu tidak pernah kutemukan saat dia berbicara padaku. Tidak, selain pada Ahra dia tidak pernah tersenyum. Cowok itu siapa? Aku hanya terkejut. Melihat keakrabannya bersama cowok putih yang mengajaknya menaiki mobilnya.

Jadi mobil pribadi itu dibilang bis? Stop. Aku tak mau perduli.

End Ryuji POV

Flora POV

“Vian?”aku terkejut melihat mobilnya berhenti di depanku. Dan memaksaku naik. Aku hanya bisa tersenyum sedikit padanya.

“Kau terkejut? Hahhaha..”tawanya saat menatap wajahku. Dia tetap tak berubah, membuat perasaanku sedikit hangat. “Apa tak merindukanku?”

“Tadi malam kita masih video call sekarang kau bertanya seperti itu? kau yang merindukanku kan?”

“Baiklah Nona. Aku merindukanmu. Aku antar kau ke kampus.”

“Dimana kau tinggal? Gisel bagaimana?”

“Untung kau mengingatkan. Akhir minggu ini dia akan tunangan. Kau akan datang kan?”

“Akhir minggu?”

“Hmm... apa Gisel tak memberitahumu? Akhh.. Bodohnya aku. Dia ingin membuat suprize padamu.”

“Hahaha.. siap-siaplah dapat hadiah darinya. Aku akan datang bersama Ahra.”

“Ahra? Siapa dia?

“My little angel.”

Hampir aku mengatakan jika Ahra anakku. Sebenarnya aku ragu mengajak Ahra. Tapi aku janji akan mengajaknya pergi akhir minggu ini karena Yuji harus keluar kota untuk study tour di kampusnya.

Malam harinya, setelah ku rasa Yuji sibuk dengan laptopnya itu, aku menemani Ahra menonton tivi. Sebenarnya aku ragu untuk mengatakannya tapi ...

“Ahra. Kau mau ikut denganku kan akhir minggu ini?”

“Hmm.. kita janji akan ketaman hiburankan?”

“Kita akan pergi, tapi bukan kesana. Teman sekolahku akan tunangan. Aku diundang olehnya. Kau mau ikut?”

“Itu berarti kita akan jalan-jalan jauh?”

“Iya. Tapi kau rahasiakan ini dari Papamu. Kita akan menginap disana.”

“Yang benar? Asyikk...”

“Tapi aku mohon padamu.”

“Apa?”

“Tolong jangan panggil Mama di depan teman-temanku yah. Hanya di depan mereka jangan begitu. Tolong jangan tanya kenapa? Janji.”

“Janji.”

Akhirnya teratasi juga masalah ini. Aku meminta Ahra mengaku sebagai anak tetangga di tempat kost. Meskipun aku tahu dia sedikit terluka di anggap seperti itu. Tapi aku belum siap Vian tahu aku sudah menikah dan memilik anak.

Setelah Yuji berpamitan pada Ahra, aku langsung bersiap dan menggandeng Ahra menaiki bis untuk ke stasiun kereta. Ahra terlihat senang, ini pertama kalinya. Karena Yuji selalu melarangnya menaiki kendaraan umum.

Sebenarnya dia memaksaku untuk memakai mobil. Tapi aku belum siap setelah kejadian itu. Sudah lebih dari 3 jam kami duduk di kereta. Ahra sudah terlelap dua jam yang lalu. Aku tak berani membangunkannya makanya ku gendong dia. Meski sulit tapi rasanya nyaman.

Di depan sana ada dua orang teman yang lama tak kujumpai. Siapa lagi kalau bukan dua orang gadis bawel yang teriakannya menyakitkan telinga. Dengan cepat dia membantu membawa tasku. Dan terkejut memandang anak kecil yang ku gendong.

Aku hanya berjalan tanpa menghiraukan mereka. Di mobil aku menidurkan Ahra di bangku belakang. Dan mengangkat kepalanya di pahaku. Aku duduk manis sementara dua temanku memasukkan tas ku di bagasi belakang.

“Baru sebentar kita pisah? Kau sudah membawa anak kecil saat kembali.”ledek temanku yang menyetir mobil. Dia memandangku menggunakan spion.

“Kau menemukan anak kecil dijalan?”tanya orang disebelah pengendara itu.

“Aku capek. Bisa aku tidur sebelum menjawabnya.”

Buuuukkkkkkkkkkkk

Lemparan bantal dari bangku depan sebelah pengemudi pas kena mukaku. Mereka memang tak berubah. Memaksaku bercerita. Aku memandang Ahra dengan perasaan bingung. Aku menutup telinganya agar dia tak mendengarnya.

“Yak.. kau berdua tidak bisa lembut padaku.”

“Kau yang membuat kami seperti ini. Ayo katakan siapa gadis kecil ini.”

“Namanya Ahra, dia anak tetanggaku.”

“Kau membawanya?? Kau gila??”

“Orang tuanya menitipkannya padaku. Mereka percaya padaku.”

“Kau tidak membohongi kami kan?”

“Kenapa?”

“Matamu tak mau menatap kami. Kita sudah berteman lama Flo. Dan aku tahu saat kau berbohong.”

“Tidak aku tidak berbohong.”

“Baiklah.”

‘maaf yah sayang. Mama harus menyembunyikanmu statusmu seperti ini’gumamku di depan wajah Ahra.

Pertunangan Gisel akan di adakan besok malam. Aku dan Ahra tinggal di rumah Reina. Dia memaksaku untuk tinggal disana. Sedikit terluka, saat Ahra memanggilku Kakak. Dia juga agak ragu memandangku. Reina tinggal bersama Kakak perempuannya yang sudah mempunyai anak seusia Ahra.

Aku mengamati Ahra dan Lala bermain bersama. Rasanya senang bisa melihat Ahra bermain. Satu hal yang aku tahu, dia lebih supel dibanding Papanya. Mungkin itu sifat temurun dari Mamanya. aku tertegun saat Lala mengatakan ...

“Mamaku sangat menyukaiku. Dia selalu mengajakku kemanapun dia pergi. Meski aku selalu nakal, dia tetap mengatakan aku anak baik .”pernyataan jelas yang membuatku terluka. Dan tambah terluka lagi saat Ahra mengatakan.. “Aku iri padamu..”

“Sepertinya memang harus ada yang kau jelaskan. Ceritakan saja.”kata Reina yang kini duduk disebelahku. “Siapa Ahra? Apa dia ...”

“Dia anakku. Aku menikah dengan Papanya sebulan setelah tinggal disana. Wanita itu menjodohkanku. Aku tidak punya alasan menolak karena hari itu terakhir pengembalian berkas untuk wali.”

“Kau mencintai suamimu?”

“Entahlah. Awalnya karena kuliahku dan sekarang karena dia.”

“Kau mengatakan apa padanya.”

“Jangan memanggil Mama dihadapan kalian.” Dengan cepat tangan Reina memukul kepalaku. “Aishh.. sakit.”aku meringis sakit. Melihat itu Ahra mendatangiku. “Kepala Mama sakit.?”ucapnya lembut. “Maaf.. Kakak sakit yah.”ralatnya saat menyadari ada Reina di sebelahku.

“IQ mu memang tinggi. Tapi kau hebat juga membuat gadis kecil tak berdosa ini terluka. Bodoh.”

“Ahra.. dia Mamamu?”dia hanya diam sambil menunduk. Saat aku ingin bicara Reina melarangku dan menyuruhku diam. Ahra hanya diam tak berusaha menjawab. “Tante hanya ingin tanya saja, dia ini Mamamu bukan?”

“Bukan.”jawab Ahra sambil menangis. Dia menangis sesegukan dihadapan Reina. Aku diam membeku. Di depan teman-temannya dia memperkenalkan aku. Rasanya sakit saat dia mengatakan kata ‘bukan’ . “Jangan menangis. Maafin Mama yah sayang.”kataku kemudian memeluknya. Ini pertama kalinya dia menangis karenaku. Dan itu sungguh menyakitkan.

“Kalau Mamamu membuatmu menangis bilang sama Tante yah sayang. Biar Tante pukul lagi.”

“Jangan pukul Mamaku, Tante.”balasnya sesegukan. Aku mempererat pelukanku. Dan menghapus air matanya kemudian mencium pipinya. “Ahra boleh menghukum Mama, kalau Mama membuatmu menangis lagi. Oke.”dia hanya menganggukan kepala.

“Bagaimana saat Vian tahu?? Apa kau akan mengatakannya?”tanya Reina yang menatapku bingung. “Kau tau? Kenapa dia yang memberitahumu tentang pertunangan Gisel?”

Aku hanya menggelengkan kepala. Dan merapikan pakaian Ahra. “Dia ingin melamarmu, Nona Flora.”aku membeku. Ahra diam menatapku. Aku gak tahu harus mengatakan apa? Semoga Ahra tidak mengerti masalah ini. Bodohnya Reina. mengatakan ini di depan Ahra. Aku menutup telinga Ahra.

“Jangan katakan apapun tentang Vian dihadapan dia. Kau tahu, Ahra mempunyai pendengaran yang tajam.”

“Maaf. Aku hanya bingung mau bagaimana membantumu.”

“Apa sebaiknya setelah mengucapkan selamat aku pulang saja?”

“Ish.. bodoh. Mana mungkin Gisel menerimanya. Dia pasti memaksamu untuk disina lebih lama.

“Harus bagaimana?? Kau tahukan aku selalu runtuh jika membuat pertahanan di depan Vian.”

“Ajak saja suamimu kesini.”

“Untuk apa? Memperkenalkan dia didepan Vian? Kau gila, Reina”

“Yak. Aku tahu, membawa Ahra kesana saja sudah tanda tanya besar? Apalagi mengajak Ayahnya. Tapi kau harus jujur cepat atau lambat.”

END Flora Pov

Acara meriah di hotel berbintang 5 itu pun berlangsung dengan lancar. Pertunangan Gisel dengan Alex sangat membuat iri ketiga temannya. Flora sedikit iri melihatnya. Alex adalah Kakak kelas mereka waktu SMP. Sebelumnya mereka pernah berebut perhatian Alex namun Gisel lah yang mendapatkannya.

Ahra menikmati keadaan pesta itu dengan kagum. Sebelumnya dia berbisik, nanti kalau besar ia ingin acara tunangannya sama seperti ini. Reina dan Flora hanya tersenyum mendengar gadis kecil ini. Reina dan Flora sibuk dengan candaan Eirin. Sampai terlupa dengan keberadaan Ahra.

15 menit berlalu..

Flora baru sadar kalau Ahra tidak di sisinya lagi. Dia mencari Ahra dengan was-was. Reina tidak tahu karena sibuk dengan acaranya. Dia ditunjuk sebagai MC disini. “Sedang mencari siapa?” tanya laki-laki yang suaranya sudah disimpan baik di pikiran Flora. Dia bingung harus menjawab apa.

Ahra melihat orang-orang dengan wajah takut. Dia jarang diajak Yuji ke pesta. Dia menyesal berjalan jauh dari Mamanya. Pertanyaan orang-orang yang bingung melihat anak kecil disini malah membuatnya takut. Apalagi saat ada tangan yang memegang pundaknya ... “MAMAAAA”.

Mendengar teriakan itu Flora mencari asal sumbernya. Dia terkejut melihat Ahra duduk sambil memeluk kedua kakinya. Dia menangis sesegukan. Tapi lebih terkejut saat melihat orang yang sekarang berjongkok mendekati Ahra.

“Ahra kenapa disini? “suara lembut itu membuat Ahra mendongak. “Papaa.. hikss hikss.”dia memeluk Yuji dengan sangat erat. Yuji menggendongnya. Dia tak mau jadi tontonan orang-orang di sekitarnya.

“Dia bersamaku.”kata Flora tepat di belakang punggung Yuji. Saat Yuji membalikan badan, dia tidak terkejut dengan istrinya. Tapi lebih bingung dengan seorang cowok yang waktu itu bersamanya di halte.

“Kau tak minta izin padaku membawa Ahra kesini.”

“Maaf.”

“Kau mau pulang denganku atau tetap disini.”

“Tapi ini acara teman baikku.”

“Aku tunggu 15 menit di mobil.”kata Yuji menjauhi Flora sambil memeluk erat Ahra. Ahra hanya diam saja di peluk Papanya.

“Ada yang ingin kau jelaskan Nona?”tanya Vian setelah kepergian Yuji. Flora hanya diam membisu. Ini bukan saat yang tepat menjelaskan. “Maaf.” Katanya kemudian berlari ke arah Yuji.

“Kau tau masalah inikan Rei. Jangan pura-pura tidak tahu.”

$$##my_destiny$$##

Di mobil hanya ada keheningan. Ahra sudah lelap tertidur di bangku belakang. Sementara Flora hanya diam membisu menemani Yuji di bangku depan. Dia tak berani bicara atau menatap laki-laki itu.

“Alex temanku. Aku disana karena dia.”

“Aku ragu saat ada anak kecil mirip Ahra. Karena aku tahu dia bersamamu dirumah. Tapi saat dia menangis dan memanggilmu aku jadi ragu dan mendekatinya. Dia menangis tanpamu. Setelah itu kau datang dengan orang lain. Bisa kau jelaskan.”

“Maaf.”

“Permintaan maaf mu percuma. Aku tidak pernah butuh itu.”

“Ahra lepas dari jangkauanku. Aku benar-benar minta maaf.”

“Siapa laki-laki itu?”

Flora hanya diam membisu menjawab pertanyaan itu. Ini pertama kalinya suara Yuji tegas dan lebih dingin. Dia sesekali memandang Flora namun tetap fokus menyetir. Sampai 5 menit tak mejawab Yuji memberhentikan mobilnya. Dan dia menatap Flora sangat dalam.

Flora tetap diam dan lebih senang memperhatikan high heelsnya. Dengan cepat Yuji memegang bahunya  Kemudian dia mendekatkan wajahnya ... CHUP ...

Ciuman pertamaku... meskipun aku berhubungan dengan Vian. Aku selalu menolak melakukan itu. meskipun kadang Vian terima alasannya, kadang dia juga memaksa. Tapi aku selalu berhasil menghindarinya.

Tapi kenapa dengannya aku diam dan menikmatinya.  Aku ingat ucapan Mama..

Jantungmu akan berdetak lebih cepat
Hatimu seakan bergemuruh kencang
Semua pikiran dan teori di otakmu hilang 

Yuji memelukku, ini pertama kalinya dia melakukan ini. Melakukanku sebagai wanita yang patut di sayangi. Dia mencium pipiku. Kemudian berbisik .. “Ahra kehilangan Mamanya waktu kecil, aku tidak ingin dia kehilangan lagi. Aku janji. Aku akan belajar mencintaimu dan menjadikanmu dan Ahra prioritasku. Tolong jangan pergi.”dia mencium bibirku lagi dengan lembut. Bisa kurasakan kehangatan bibirnya. “Kita sudah sampai, Mah?”

THE END

0 komentar: