Sabtu, 26 Mei 2012

With love, Cryst@l, Part 1

Kehilangan yang menyedihkan itu ketika kita tak bisa melakukan apapun ketika orang yang paling berharga dikehidupan kita pergi untuk selamamnya. Sungguh benar, Kuasa Tuhan tak ada yang menandinginya, sekalipun usaha dari berbagai orang yang membantu dan mempunyai kemampuan melebihi yang lain tetap tak akan ada yang mampu mengubah suratan takdir yang ditulis apik oleh Sang Pencipta.

Meskipun kejadian itu sudah lama, tapi kecelakaan singkat yang ada di depan mata tak juga bisa berlalu. Ingin rasanya membenci takdir, memaki banyak orang yang disana, bahkan menghukum mati Si penabrak. Tapi sayang, tak akan ada yang mampu membuat orang yang meninggal kembali bersama kita.

Sungguh, aku ingin membencimu, Tuhan. Mengatakan banyak kata maki dihadapanmu. Tapi itu malah akan membuatku membenci diriku sendiri. Sebenarnya itu makian yang aku ingin katakan pada diriku, tapi aku ingin mencari orang yang bisa aku salahkan dari semua kejadian yang aku alami.”

***
“Selamat ulang tahun, sayang.”bisik seseorang dari sebelah tempat tidur, ia membangunkan seseorang yang dihadapannya, yang terlihat lebih muda darinya. Terlihat dari wajahnya bahwa dia sangat menyayangi gadis itu, bukan sebagai laki-laki kepada wanita. Tapi sebagai seorang kakak kepada adiknya. “Hei, ayo bangun. Susah banget sih bangun aja.”tambah seseorang yang berada di tempat yang lain dari orang pertama. Terlihat bahwa keduanya mempunyai sikap yang jauh berbeda, tapi satu yang membuat keduanya sangat mirip. Sama-sama menyayangi saudara perempuan mereka satu-satunya itu.

“Sudahlah, taro saja kue sama kado kalian di meja itu.”kata wanita yang dari tadi memperhatikan dua kakak beradik itu. Ia kasihan pada keduanya, tapi mau bagaimana lagi. Crystal, keponakannya memang sulit dibangunkan bila sudah lelah. “Ayo istirahat, besok kalian banyak kegiatankan.”

“Terimakasih.”kata Crystal setelah tak ada orang lagi disekitarnya. Kemudian meniup api yang masih menyala di kue tersebut. Tak lupa dia berharap dahulu sebelum api itu padam. “Ini pertama kalinya aku tak merayakan bersamamu.”ucapnya lagi. Dengan perlahan, ia membuka kado yang sejak tadi berharap minta dibuka. Ia tak terkejut tapi juga tak mengiranya. Kado yang dulu ia harapkan bahwa Mamanya yang akan memberikan dan mengatakan selamat yang pertama kali. Semua itu hanya sebuah pengharapan yang tak akan nyata.

Neo gateun saram tto eopseo juwireul dureobwado geujeo georeohdeongeol odiseo channi Neo gatchi joheun saram neo gatchi joheun saram neo gatchi joheun ma eum neo gatchi joheun seonmul.

 Suara yang sudah menjadi nada sambungnya beberapa minggu terakhir. Ia tak berniat mengangkatnya, tapi nada itu akan terus berbunyi sampai ia menjawabnya ...

“Hallo.”singkat Crystal
“Selamat ulang tahun ya, Peri kecil Papa, Maaf yah Papa tidak ada disana. Tapi setelah urusan disini selesai, nanti kita pergi liburan bersama”katanya dengan nada menyesal.
“Tidak apa, Papa ingat saja aku sudah senang.”jawabnya menenangkan.
“Apa yang kamu butuhkan saat ini?”balasnya dengan nada membujuk.
“Tidak ada. Hanya ingin Papa cepat pulang.”katanya dengan sangat lembut.
“Baiklah. Akan secepatnya Papa pulang. Sudah ya, selamat tidur kembali, Sweety.”katanya dengan nada menyesal yang dalam. Ia tahu membujuk sepertu apapun, tak akan merubah jawaban putrinya.

Drrerttt .... Drretttt. Ada 2 pesan yang sudah dari tadi minta dibaca. Yang pertama ..
“Selamat ulang tahun ya, semoga semua harapan dan keinginan dari Risha Crystal bisa terwujud. Amien. Semoga semua kesedihanya terbang dibawa angin dan kebahagiannya cepat datang.”
“Semoga mendung itu cepat berlalu, dan pelangi indah itu segera datang. Selamat ulang tahun.”

Sebenarnya isi pesan dari keduanya sangat berkesan untuknya. Yang pertama dari sahabatnya, Sila. Dan yang kedua dari seseorang yang membantunya menjalani hari dengan lebih baik. Tapi ternyata kebaikannya tak bisa mengetuk hati Crystal yang sudah di isi orang lain.
***
“Tidak mengucapkan selamat padanya?”kata seorang cewek yang menatap lembut cowok dihadapannya. Ia sudah paham jelas sifat adik laki-lakinya yang satu ini. Ia bahkan sudah tahu reaksi apa yang akan ia terima. Tapi sebagai kakak yang baik, ia hanya ingin membuat suasana di meja makan ini sedikit lebih hangat. “Anggap saja, ucapan sebagai teman.”katanya lagi dengan wajah lebih lembut. Tapi hanya tatapan tajam dan menusuk itu yang ia terima.

“Kamu bisa mewakilkannyakan. Terimakasih.”balasnya dengan wajah yang sudah berubah. Ia kemudian melanjutkan makannya yang sempat tertunda. “Hei Yuji, sejak kapan ada ucapan lewat perwakilan. Tidak usah berpikir untuk menelpon, bisa smskan? Sebaiknya tarik kembali ucapan terimakasihmu itu. Aku pergi.”balasnya tanpa menunggu respon Yuji.

“Kamuu seperti menghipnotisku”katanya dengan pelan, seperti berpikir kembali dengan ucapannya. Nuna malah sangat puas dengan reaksi adiknya itu. Dengan santai ia membawa mobil kesayangannya itu berbaur dengan pengendara lainnya di jalan raya.

!5 menit kemudian, di kelas 2.1
 “YUJIIIII”kata temannya sedikit berteriak, ketika tak ada tanggapan. Meskipun 5 jari sudah melambai di depan matanya, kalau alam bawah sadar Yuji tak berminat sadar. Mau bagaimana lagi?

“Sepertinya dia tidak masuk yah, padahal sudah ku bawakan kado.”ucapan teman-temannya dari jauh malah membuyarkan lamunan Yuji. Ia sangat tahu kado yang teman-temannya berikan itu untuk siapa,? siapa lagi kalau bukan cewek itu. Semua cowok normal pasti akan tertarik padanya, mungkin hanya dia yang masih menimbang perasaaanya.

“Udah sadar, Ji.”kata temannya asal, ia sudah capek membangunkan temannya itu dari lamunannya. “Bolos yuk?balas Yuji yang menatap temannya itu. “Ogah, bulan ini udah tiga kali nggak masuk kelasnya Bu Amara.”protes Dio, ia juga capek mengikuti kemauan temannya yang terkadang egois itu. “Baru tiga kali, belom juga dapet SP. Ayok lah, bosen dengerin dia cerita.”bujuk Yuji dengan tatapan memohon.

“Sekalipun seorang Yuji ngemis di kaki Dio pun, no kabur hari ini.”jawab Dio yakin. Sejak kapan Dio punya pendirian? Jawabannya pasti sejak anak baru itu di sekolahnya, siapa lagi kalau bukan Crystal! Cewek bermata biru yang akhir-akhir ini menjadi berita heboh di SMA NUSANTARA.
“Dia nggak masuk!”ejek Yuji, dia kembali dengan pikiran awalnya menulis kemudian dihapus lagi, pikiran dan hatinya sedang tidak satu jalan. Dio hanya menatap ragu, sebenarnya ia ingin membantu tapi diurungkan niatnya saat cewek yang ia tunggu datang.

Semua temannya menyapa ramah begitu juga Crystal, ia membalasnya sangat ramah dan sedikit tersenyum. Itu yang menambah kesan unik diwajahnya yang memang sangat cantik. Tak ada kata bosan untuk memandang tiap menit wajah itu. Yuji hanya diam dan mengurungkan niatnya untuk memberi ucapan, namun kata-kata itu terlintas di otaknya sehingga ia membuka ponselnya dan dengan cepat mengirimnya.

          From : Ryuji ^^
“Tidak usah tersenyum kalau itu sulit, itu hanya akan buat anda terlihat hidup tapi tak ada artinya. Coba katakan saja terimakasih, setidaknya itu lebih baik dan akan terlihat lebih manis. Selamat Ulang Tahun”

Crystal yang membacanya sedikit terkejut. Ia tidak terlalu yakin kalau orang yang ia harapkan itu akan mengucapkan selamat padanya, setidaknya Tuhan menunjukan kalau awan mendung itu akan cepat pergi.

          From : Ryuji ^^
“Ini lebih menarik dari yang tadi”

Lagi, itu malah membuat wajah Crystal sedikit berubah. Entah kenapa sikapnya bisa berubah cepat kalau berhadapan dengan cowok yang mempunyai 2 kepribadian itu.
Dengan puas Yuji menyimpan ponselnya di saku celananya, setidaknya hanya itu yang bisa ia katakan. Dan sekali lagi beranggapan Nuna memantrahinya.

          From : Cryst@l
“Hari ini yang ulang tahun tidak terima penolakan, pulang sekolah nanti, antar aku bertemu Mama.”

Pesan singkat itu membuat Yuji menunggu Crystal agak jauh dari gerbang sekolah. Hari ini semua murid dipulangkan lebih cepat, sebenarnya tak ada kegiatan yang penting, karena berhubung ada acara PENSI minggu depan dan ada perlombaan kebersihan antar kelas maka semua penghuni harus membantu acara itu agar terlaksana.

Bukan karena ingin disembunyikan tapi memang keduanya tak pernah mau terlihat akrab di depan yang lain. Bukan juga karena ada hubungan khusus, tapi memang mereka malas menjawab tuduhan atau ocehan teman-teman mereka.

“Ayo.”ajak Crystal yang memasang tampang lugu. Ia tahu, Yuji paling benci disuruh menunggu, sekalipun itu hanya 5 menit.

“Dasar Nona telat. Tidak ada ya niat untuk mengubahnya?”jawab Yuji sambil menjalankan mobilnya. “Hei, hari ini aku tidak terima protes.”jawab Crystal tegas. Ia memasang headset dan menyetel lagu kesayangannya. Melihat itu Yuji hanya mengumam. “Dasar Nona. Selalu saja seenaknya.”gumamnya sedikit keras, membuat Crystal sedikit tersenyum.

Sesampainya di pemakaman umum, Yuji hanya diam melihat Crystal turun tanpa sepatah katapun. Ini sudah kedua kalinya ia mengantar Crystal ke tempat yang sama. Kali ini ia tidak duduk diam di mobil seperti biasanya, ia berjalan pelan mengikuti Crystal ke tempat terakhir Mamanya itu. Dan berhenti di jarak yang cukup, agar tak mengganggu ritual Crystal.

“Apa kabar, Mah? Bagaimana? Apa perubahanku bisa membuatmu sedikit tersenyum disana. Aku sudah mulai berteman baik dengan orang disekelilingku. Setidaknya ada hal yang baikkan? Hari ini Papa menjanjikan liburan, hal yang terkesan jarang dia ucapkan tapi selalu ditepati. Semoga semua berjalan baik. Aku merindukanmu, Mah.”kata Crystal dengan suara yang sangat lembut. Ia tak mau orang lain dengar, khusus ucapan itu untuk Mamanya meskipun tidak ada jawaban yang membuatnya puas atas laporan itu.

Sebenarnya ia tahu ada langkah kaki yang mendekatinya, tapi dibiarkan saja tanpa reaksi agar tahu apa yang di inginkan oleh temannya itu.

“Selamat siang, Tante. Ini yang kedua kalinya aku kesini tanpa menyalamimu, jangan salahkan aku, marahi saja dia, Tan. Dia tak pernah mengajakku berbicara padamu. Bahkan dia selalu menyuruhku dengan wajahnya itu mana mungkin aku bisa menolaknya. Ayolah, Tan. Jangan membantunya meluluhkan aku dengan kemauannya yang aneh.”kata Yuji tajam sambil menatap nisan itu. Ia tak membutuhkan jawaban, ia hanya membantu temannya itu bangkit dari kesedihannya yang mendalam. “Oia Tan, bilang padanya, jangan membuatku belajar ektra dengan mengulangi pelajaran yang sama tiap akhir minggu.”

“Hei Ryuji. Sejak kapan kamu boleh mengatakan hal itu!”kata Crystal memasang tampang sinis. “Mah, aku pulang.”kata Crystal mengalihkan tatapan Yuji yang lebih memasang wajah dingin dan tak bersahabat. Kemudian ia berjalan meninggal temannya itu yang kini malah duduk di makam Mamanya.

“Yuji janji sama Tante. Ini terakhir kalinya dia bersikap seperti itu.”katanya yakin sambil senyum penuh kemenangan. Sepertinya sudah banyak rencana yang ada di otaknya hanya perlu waktu untuk merealisasikannya. “Ayo cepat, aku masih punya banyak tempat yang harus dikunjungi hari ini.”kata Crystal sedikit berteriak.

“Lihatlah Tante, dia sudah punya sifat marah yang manis.”kata Yuji yang mendengar teriakan Crystal kemudian berlari menghampiri Crystal yang sudah hampir sampai di mobilnya.
***
Rumah yang kelihatan asri itu banyak meninggalkan kenangan di dirinya. Banyak juga memberikan luka yang mendalam dan sulit dilukiskan. Sila sudah siap dengan pilihannya, tidak semua barang-barang kesayangannya dia bawa. Hanya beberapa yang di anggapnya penting dan wajib harus dibawa. Kemudian ia memandang foto 5 tahun yang lalu, saat pertama kalinya ia dan keluarganya datang ke sini. Tapi itu hanya sebuah kenangan yang sebentar lagi harus  dilepaskannya.

“Kalau sudah siap, kita berangkat, Sil?”ajak Mamanya yang sudah siap menjalankan mobilnya. Ia yakin anak pertamanya itu sulit memilih dan enggan keluar dari rumah ini. “Nanti kita ketinggalan pesawat.”katanya lagi, berusaha memaksa dengan lembut.

“Hati-hati ya, Kak. Jaga Mama yah.”kata Mei, yang bersikap kuat. “Liburan nanti ajak Mama kunjungi aku ya.”lanjutnya sambil menatap kakaknya yang terakhir kali sebelum pergi.

“Ayolah Sila.”kata Mama sedikit keras. “Jaga dirimu baik-baik, Mei.”lanjutnya kemudian menyalakan mobilnya. Tanpa ada ucapan selamat tinggal, Sila langsung naik ke mobil yang akan membawanya pergi jauh dari sisi adik dan Papanya.
***
Belum juga istirahat, ia harus melawan waktu agar sampai di bandara dalam waktu 30 menit. Sebenarnya tadi sempat menyepelekan taruhan dari temannya, apalagi nilai taruhan itu yang selama ini diinginkannya. Sayangnya, semua itu terhempas percuma melihat banyak kendaraan didepannya yang menunggu antrian. Yuph, perbaikan jalan itu membutuhkan extra waktu untuk melewatinya. Dan 10 menit terbuang percuma.

“Namanya Naysila.”kata Crystal memecah keheningan. Ia tak perduli dengan tatapan tajam orang disebelahnya. “Katanya akan tinggal di daerah Kembangan.”lanjutnya tanpa menoleh ke orang sebelahnya.

“Hah!! Dari tadi maksud kamu apa?”katanya dengan wajah bingung. Sebenarnya ia sudah tahu maksud dari percakapan sepihak itu, tapi berhubung keadaan ini jarang terjadi, membuatnya sedikit mencari suasana bagus untuk bisa lebih mengenal gadis manis yang sulit mengatakan isi hatinya.

“Ish.. susah banged ngomong sama cowok bodoh ini.”gumam Crystal agak keras. Membuat Yuji sedikit menyesal dengan jawabannya tadi. “Jam berapa dia sampai?”kata Yuji datar, seolah tak mendengar gumaman Crystal yang mengejeknya tadi. “Jam 5 sore. Dia masih perjalanan ke bandara.”kata Crystal pelan. Tapi membuat Yuji duduk terpaku mendengarnya, sekarang masih jam 3 sore, harus sampai bandara hanya dalam waktu 30 menit tapi disana harus menunggu hampir 2 jam.

Ryuji POV

Ini namanya ajak perang. GILA!!! Sekarang jam 3 sore dan harus sampai 30 menit sampai di bandara. Dan disana 2 jam terbuang pecuma. Tapi rasanya aku sendiri yang lebih bodoh. Selalu bilang ‘iya’, apapun yang dia mau. “Dasar bodoh.”gumamnya pelan. Ia ingin sekali membuat gadis disebelahnya menyesal dengan sikapnya ini. “Bisa gantian nyetir nggak? Perutku mual nih, tadi dikelas kayaknya salah makan deh.”kata Yuji meringis sakit. Ia memegang perutnya dan membuat raut wajahnya seperti orang sakit.

“Jangan bercanda. Mobil di depan sudah jalan tuh.”balasnya sedikit gugup. Tapi tak membuat Yuji menyerah, ia terus mengerang memegangi perutnya. “Kamu serius yah. Ki ..kita gantian yah.”katanya lebih gugup dari tadi. Dengan cepat ia keluar dan memutar ke tempat duduknya Yuji. “Hahaha.. kita satu sama Nona.”kataku melihat kepanikannya.

“Tadi kamu makan apa emang?”katanya lagi sambil memperhatinkanku dengan lebih detail. Ia memegang keningku. “Yang sakit perutku bukan keningku.”kataku yang tahu jelas maksudnya itu. “Aku mau tidur dulu.”lanjutku lalu menutup mata. “Akhirnya bisa istirahat juga.”batinku tenang.

Crystal POV

Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan? Di jalan seperti ini mana ada apotik atau toko obat. Aku tahu rasanya sakit diperut itu bagaimana, aku punya penyakit magh yang cukup menyakitkan. Akh iya, 2 meter dari sini ada supermarket. Terlihat tak ada kemajuan dengan mobil di depanku, aku turun dari mobil tanpa membangunkannya, dengan cepat aku berjalan di antara mobil yang terjajar rapi seperti ada kontes mobil terpanjang di dunia. Dengan langkah cepat aku mengambil air mineral, roti dan obat magh yang biasa aku makan. Kemudian mencari mobil yang tadi membawaku kesini. BODOH!! Aku lupa warna dan plat nomornya.

Dan membutuhkan lebih dari 5 menit untuk menemukannya, kalau bukan karena klakson dari mobil di belakangku itu tak mungkin bisa kutemukan dengan mudah. Setelah menjalankan mobilnya ke tempat yang pas, aku bingung harus membangunkan atau membiarkannya saja, biar dia bangun sendiri. Tapi bagaimana kalau lambungnya tambah perih. “Ahh.. kenapa jadi seperti ini.”keluhku sambil menjedotkanku ke stir mobil di depanku.

“Kamu kenapa?”katanya mengagetkanku. Sepertinya keluhanku membuatnya terbangun. “Ini.. tadi aku beli di supermarket.”kataku sambil memberikan belanjaanku tadi. Wajahnya malah berubah jadi aneh dan itu terlihat menyebalkan. Tapi diterima juga, ia tak banyak bicara dan langsung memakan pemberianku tadi. Kemudian melanjutkan istirahatnya lagi. Baguslah, setidaknya aku tak membuatnya mati kesakitan. “Terimakasih.”katanya pelan. Tapi itu membuat hatiku lega dan sedikit senang. Perasaan apa ini? Jangan, jangan sampai aku lebih menyukainya dari sebelumnya. Sadar CRYSTAL!!! Yuji tidak pernah menyukaimu.

0 komentar: