Selasa, 02 Oktober 2012

Seokyu {series} .. It's Okey. That is 'masa lalu'

-->

Preview
Kyuhyun menatap Seohyun lekat, melihat Seohyun yang memejamkan matanya untuk menikmati udara dingin tapi yang seolah menenangkannya. “Kau memang bukan yang pertama atau terutama untukku saat ini. Cukup berada disisiku, kau akan tahu dimana tempatmu berada. Hajima.”

“Hei Nona Muda. Kajja, kita Menikah.”

It’s Okey. That is ‘masa lalu’

Ketika kamu sudah berkomitmen, belajarlah untuk saling mendalami satu sama lain, nanti pasti akan datang berbagai masalah. Tapi satu hal yang harus kamu lakukan, ‘percayalah’




“Mwo …”

Hahahhaha… tawa Seohyun pecah ketika menatap Kyuhyun dengan wajah serius. Ini memang bukan pertama kali Seohyun melihatnya, tapi entah kenapa melihat lagi wajah itu membuatnya tak bisa menahan tawanya. Tidak diperdulikannya orang-orang sekitar yang menatapnya aneh.

“Yak!!! Ini tidak becanda.”balas Kyuhyun dengan wajah kesal. Bagaimana tidak? Ketika kita sudah menyusun satu kalimat serius hanya di tanggapi dengan tawa aneh. Ingin rasanya meninggalkan yeoja di sampingnya ini juga menghindari pandangan tajam sekitarnya.

“Hahahha… ini memang lucu, Tuan.”jawab Seohyun sambil menahan tawanya. Di pikir-pikir hanya ucapan serius dari namja ini, kenapa bisa dirinya semudah ini tertawa. “Kau ini sedang melamarku? Omo … kau benar-benar tidak romantis.”keluh Seohyun.

Memang pemandangan kota Seoul sangat indah dari atas sini. Tapi bukan berarti namja ini bisa seenaknya mengucapkan kata sacral itu. Ketika Kyuhyun memintanya menjadi tunangannya, memang dirinya hanya berpikir sebentar untuk menerimanya. Lain halnya dengan mengajaknya menikah. Tidak segampang dan semudah itu bukan.

“Hmm .. Apa kau ingin aku membawakan bunga dan cincin. Kemudian membisikan kata-kata gombal padamu?”tanya Kyuhyun serius.

”Wae?? Memang tidak boleh?”balas Seo membalas tatapan tajam Kyuhyun.

“Hahhahaha.. itu sudah basi, Nona. Bukannya to the point sambil menikmati suasana hening lebih unik?”ucap Kyuhyun yakin beserta senyum evilnya.

“Huhh… kalau begitu lamar saja pspmu itu. Kau pikir aku tidak tahu, suasana seperti ini yang kau butuhkan untuk bermain game bukan. Pabo.”

“Yaakkkkk …. “

###^^^###

Annyeong Hasimnikka, Sajangnim .. Oso Osipsiyo.”sapa seorang lelaki paruh baya kepada majikannya. Sudah lama majikannya ini tidak kembali kerumah besar keluarga SEO. Tepatnya sejak kepergian istri dan putri pertamanya.

“Lama tak bertemu, ajussi.”balas Tuan Seo ramah. Mengingat hubungan mereka sudah cukup lama. “Dimana Seohyun?”lanjutnya karena tak melihat putrinya di sekitar rumahnya.

“Nona muda pergi setelah membereskan pakaiannya, Tuan. Apa ada yang perlu saya lakukan.”ucapan Ajussi Kang hanya mendapat gelengan dari majikannya. “Baiklah. Selamat istirahat Tuan.”

Dengan cepat Ajussi Kang meninggalkan Tuan Seo sendirian di kamarnya. Mungkin majikannya ini membutuhkan istirahat yang cukup setelah perjalanan jauhnya.

Setelah merebahkan diri di kasurnya. Tuan Seo mengaktifkan ponselnya. Ada beberapa panggilan masuk dan sms yang sebelumnya di abaikannya. Namun, pandangannya tertuju pada urutan ketiga orang yang menghubunginya. Belum sempat dirinya berpikir beberapa hal. Dering ponselnnya membuatnya sedikit tersenyum.

“ Yeoboseyo..”ucapnya lembut.

“Daddy. How are you?”

“Fine, Honey. Kau sudah sampai? Kenapa baru menghubungi Daddy?”

“Mianhae. Ponsel Daddy juga baru aktif.”

“Kau senang ya disana?”

“Hmm.. ne. dia menyambutku dengan hangat. Apa sama seperti …”

Ada jeda ketika putrinya ingin mengatakan hubungan ‘tunangannya’ itu dengan Oenninya ..

“Dengan Yuri?”lanjut Tuan Seo. Membiarkan putrinya terbiasa dengan kenyataan bahwa Kyuhyun mempunyai hubungan lebih dulu dengan Yuri.

“Ne.”

“Semua pasti ada waktunya, Honey. Don’t be afraid. Okey. Daddy ada meeting. Bye.”


Sedikit keBohongan untuk sebuah kejutan hangat tidak masalah bukan. Tuan Seo tidak sedang di kantornya apalagi di suasana meeting. Saat ini ia sudah ada di Seoul. Tempat yang beberapa saat lalu juga di kunjungi oleh putrinya.

Kalau putrinya sedang berusaha membangkitkan diri dari ketakutannya. Kenapa dirinya tidak? Kenapa harus berada di masa lalu jika di depan masih ada beberapa asa untuk terus maju.

###^^^###

Setelah mengantarkan Seohyun kerumahnya. Tidak lagi rumah Keluarga Cho menjadi tujuan utamanya. Meskipun tidak ada jadwal pertemuan. Kyuhyun sering mendatangi rumah Sungmin untuk sekedar menenangkan pikirannya. Mungkin sejak beberapa waktu lalu, rumah Sungmin mempunyai daya tarik sendiri untuk menghilangkan penat.

“Annyeong.. Hyo na ya. Sungmin ada?”sapa Kyuhyun ketika melihat Hyo na membuka pintu. Sedikit anggukan dan memberikan sedikit celah untuk Kyuhyun masuk dan mendatangi kamar kakaknya.

“Mau apa kesini, Kyu?”tanya Sungmin ketika melihat Kyuhyun mendekatinya.  Kyuhyun hanya memberikan evil smirknya dan mengambil cappuccino dari tangan Sungmin. Karena sudah terbiasa tak ada tatapan kesal yang Sungmin pada namdosaengnya itu.

“Aku habis kencan dengan Seohyun, Hyung.”balas Kyuhyun setelah menghabiskan segelas cappuccino Sungmin. 

“Jadi kau sudah melupakan yeoja itu.”tanya Sungmin setelah mendengar ucapan Kyuhyun.

“Belum…”balas Kyuhyun yakin.

Dengan wajah tak percaya, Sungmin memperhatikan keyakinan di wajah Kyuhyun. Memang bukan dia yang sering di jahili oleh namdosaengnya ini tapi antisipasi akan lebih baik mulai saat ini. “Jadi kau masih belum yakin dengan perasaanmu sendiri?”tanya Sungmin akhirnya.

“Menurutmu, Hyung?”

Sungmin sangat kesal terhadap namdosaengnya ini. Saat ia serius bertanya Kyuhyun malah membalikan pertanyaan sendiri. Apa yang namja evil ini pikirkan? Kenapa bisa mengabaikan yeoja semanis Seohyun. Kalau saja dirinya yang ada di pihak Kyuhyun, mungkin … “Babo… apa yang kau pikirkan? Yeoja itu tunangan dosaengmu sendiri..”batin Sungmin.



“Daddy.”ucap Seohyun tak percaya. Padahal baru beberapa jam yang lalu ia menelpon Daddynya menggunakan no telpon kota itu. Tapi kenapa Daddy nya sudah ada di depan matanya saat ini.

“Kau tak mau memeluk Daddy, Honey?”tanya Tuan Seo. Sedetik kemudian Seohyun memeluk Daddynya dengan perasaan terharu.

“Aku senang melihat Daddy disini.”kata Seohyun beberapa saat kemudian. Mendengar itu senyuman hangat Daddy tersungging di wajahnya. “Kalau begitu hari ini kamu harus menemani Daddy kemanapun? Setuju.”

Anggukan disertai senyuman ala Seohyun terpampang jelas di wajahnya. Ini awal yang baik untuk membuka lembaran baru. “Ne. kita akan kemana, Dad?”

“Rahasia….. Kajja kita sarapan.”

Eurwangni Beach, Incheon

“Eottoke??? Oneul jeul gowo seyo.”tanya Daddy pada putri bungsu sekaligus menjadi satu-satunya saat ini.

Hal pertama yang ingin dilakukannya setelah sampai Seoul adalah melihat sunset bersama Seohyun. Dulu melihat sunset adalah ritual resminya. Memandangi keindahan langit berubah orange dengan hiasan pasir putih disekitarnya adalah ketenangan sendiri baginya. Salah satu bentuk anugerah Tuhan yang siapapun dengan gratis bisa menikmatinya.

“Ne… beautifull like my Mom.”lirih Seohyun.

“Apa kau sudah siap mendengar alasan kami bercerai, Honey?”tanya Tuan Seo sambil menikmati suasana tenang di pantai ini.  Mungkin usia Seohyun yang sudah dewasa bisa dengan mudah mengerti alasan mereka berpisah.

“Aku cukup dewasa untuk mengerti.”balas Seohyun sambil memandang sosok namja yang kini berubah menjadi orang yang di kaguminya. Jujur, Halmoni pernah menceritakan alasan perceraian itu tapi dia ingin sekali mendengar langsung dari bibir Daddynya.

“Tidak ada cinta di antara kami …”lirih Daddy menggantungkan ucapannya. Entah tak berniat melanjutkan atau memang ini alasan sebenarnya.

“Mwo?! Daddy kau bercandakan?”ucap Seohyun tak percaya. Bagaimana mungkin tidak ada cinta? Bagaimana bisa Yuri dan dirinya lahir jika tak ada cinta?

“Aniyo. Ini kenyataannya, Honey.”tegas Tuan Seo sambil menikmati wajah terkejut putrinya. “Kami dijodohkan, mulanya Daddy pikir cinta akan datang sejalan dengan waktu. Tapi sampai kalian lahir, cinta itu belum juga tumbuh.”

“Wae ?! Daddy tidak berusaha untuk bertahan? Mungkin sebentar lagi. Tuhan sedang melihat usaha Daddy sedikit lagi.”

“12 tahun kami rasa sudah cukup untuk saling berusaha. Kamu pasti kecewa dengan alasan ini. Tapi beginilah kenyataannya. Cinta tidak datang saat itu …..”

“…. Daddy tahu kalian kecewa…” nada penyesalan yang muncul ketika melihat wajah sendu putrinya. Ternyata dialah yang membuat senyum Seohyun hilang.

“Daddy tahu apa yang kami lakukan setelah berpisah denganmu? ….”

“…. Apa Daddy merasakan bagaimana rasanya? Ketika semua chinguku membanggakan Daddynya, meminta saran ketika sedang jatuh cinta atau sekedar menunjukan siapa Daddynya di hadapan yang lain… Hanya aku yang tidak merasakan itu.”

“Mianhae… jeongmal mianhae..”

“Masa laluku bukan semudah ucapan maaf…”

Hening. Sedikit menyesal karena dengan mudahnya dirinya merusak suasana hangat yang mereka bangun. Tapi sampai berapa lamapun semua itu ditutupi lama kelamaan akan terkuak juga. Hanya ingin menyampaikan langsung kenyataan ini kepada putrinya.

“Mom juga mencintai Daddy. Aku merasakan itu. Kenapa berhenti berusaha?”keluh Seohyun setelah menikmati kehenigannya. Kenapa saat itu orang tuanya seenaknya memutuskan tanpa melihat kedepan. Akan seperti apa efek bagi kehidupannya. Rasa ingin tahunya memuncah. Pernah dirinya memaki takdir? Kenapa harus dirinya?

“Benarkah?”balas Daddy menatap Seohyun penuh tanya. Dari sisi manapun dia tak menemukan ada setitik ruang terbuka di hati istrinya untuk menempatkan dirinya disana. Darimana putrinya tahu? Posisi apa yang membuat Seohyun yakin? 12 tahun sudah dilewatinya. Meskipun banyak tempat dan suasana mereka alami tak ada satu pintu terbuka menuju hati istrinya.

“Apa Daddy pikir logis? Mengatakan tidak ada cinta tapi kalian membuat kami hadir ke dunia ini?” perasaan sedih mendominasi hati Seohyun. Apa dirinya dan Yuri tidak diharapkan?? Atau hanya sebuah kesalahan?

Sebuah senyuman hangat ditunjukan khusus untuk putrinya. Seiring berjalannya waktu pasti pertanyaan ini akan dilontarkannya? Pertanyaan yang dirinya sendiripun tidak tahu. “Daddy tidak tahu alasan apa yang pantas untuk menjawabnya.”balasnya lembut. Ingin menyembunyikan sedikit saja kesedihan yang akan diterima Seohyun.

“Wae?” lirih Seohyun. Air matanya perlahan menetes. Sebenarnya Seohyun benci memperlihatkan sisi lemah dirinya. Tapi keadaan ini membuat dinding kokoh pertahanannya mencair.

“Yang harus kau tahu. Tak ada seorang anakpun terlahir dari kesalahan dari orang tuanya. Begitu juga denganmu.”

Sentuhan lembut tangan Daddy mengelus rambut panjang Seohyun. Hangat.

“Jangan menghiburku, sama sekali tak membuat semuanya hilang.”

“Lalu Daddy harus apa?”

“Katakan padaku bagaimana cara mengobatinya? Daddy, kau tahukan sesak dan nyeri itu sangat menyakitkan. Kadang aku sulit bernapas.”

“Hmm.. lalu Daddy harus mengobati hatimu seperti apa? Akan Daddy cari jika ada obatnya”

Dengan nada menggoda Daddy mencairkan suasana. Tak ingin menceritakan semuanya secepat ini. Seohyun belum tentu bisa menerima semuanya. Seorang Appa sangat tahu kapan dan bagaimana menyampaikan alasan yang tepat agar anak-anaknya bisa menerima semuanya dengan sangat baik. Ya meski terkadang sangat sulit menerimanya.

“Daddy. Jangan mengajak bercanda disaat seperti ini.”

Seohyun mengelak candaan Daddynya. Perasaannya saat ini tak menentu sehingga jalan untuk membuka ruang untuk tertawa sedikit tertutup. Dengan perlahan Daddy memeluk dirinya.

“Kenapa seperti ini? Putri Daddy yang cantik ini bukannya senang membagi senyum? Seohyun yang bisa mencairkan suasana dengan candanya. Dimana Seohyunku itu saat ini?”

“Sisi Seohyun yang bodoh itu telah mati.”balas Seohyun ketus dan mengalihkan pandangan ke arah matahari yang kini mulai menutupi tubuhnya.

“Yang membuat keadaan jadi menyakitkan itu pikiranmu sendiri, Honey. Menyulitkan memang menerima semuanya apalagi mempraktekan bahwa kita kuat. Tapi tidak semuanya sulit jika bertahap bukan? Seiring dengan waktu, kamu pasti bisa mengubah luka itu menjadi sebuah proses pendewasaanmu.”

“Sulit…. Apa Daddypun masih mengalaminya?”

“Hmm… Daddy tidak mengelak jika masih menyimpan harapan itu. Tapi kebahagian Daddy bukan bersama Mom begitu sebaliknya. Jangan menyalahkan takdir, Honey.”

“Aku sangat mencintaimu, Daddy. Sekalipun kelahiranku tak membuat semuanya menjadi lebih baik.”lirih Seohyun.

“Kelahiranmu adalah anugrah tersendiri, Honey. Mencintaimu dengan tulus adalah asupan energy positif. Senyumanmu seperti jutaan waktu memberi harapan kebahagian nanti. Dan melihatmu tumbuh dan berkembang menjadi gadis baik dan periang membisikan keadilan nyata dari Tuhan. Kenapa harus memaki kehilangannya jika Daddy mendapatkan malaikat cantik sepertimu.? ”

Ada setitik cahaya setelah curahan hati Appanya. Entah kenapa bisa membuat semua keegoisan orang tuanya menghilang. Tak elak itu membuat tangisnya menjadi terisak. “Hiks… Dad … hiks …. dy.. hiks…”

“Daddy tidak ingin egois mempertahankan kalian. Sekalipun kami berpisah tapi bisa saling menjaga itu sudah lebih dari cukup.”

Kenapa berubah nyaman padahal langit senja sudah menghilang. Hanya ada kegelapan yang mewakili keadaan langit saat ini.?? Bagi Seohyun kenyataan kali ini sedikit memberi kelapangan paru-parunya untuk bisa menghirup oksigen lebih banyak.

Andai saja, Oenni dan Mom mereka masih disini. Mungkin seharusnya ucapan ini bisa membuat keluarganya kembali. Sayangnya, Tuhan sangat menyayangi mereka, makanya mereka di panggil cepat untuk di tempatkan di tempat yang terbaik.

“Oenni… kau dengar. Kita memang bukan alasan mereka bersatu tapi kita adalah bukti bahwa cinta pernah ada. Mereka saling mencintai hanya saja mereka terlalu takut untuk melebihkan sesuatu yang sebenarnya memang milik mereka. ”

“Are you ok, honey??? Ini adalah masa lalu kan? Lalu apa keputusanmu dengan lamaran Kyuhyun..?”

“MWO …”

2 komentar:

Anonim mengatakan...

seo, terima lamaran kyu, tp setelah kyu buktikan dia bener2 cinta, jgn ampe kyk ortu nya seo..
kyu, lamar lah seo dgn cinta..

Unknown mengatakan...

makasih yya udah mau baca...hehehe
salam kenal