RUMIT
“Hmmm... pacar itu bukan prioritas dari
segala urusan kamu, kalau jadi pacar aja dia ga bisa pengertian apalagi nanti
ke depannya. Dia boleh kecewa tapi kamu ga bisa kan ada di dua tempat yang
sama.”
“Kakak... kenapa Ibu maksa kita harus
ikut sih?”
“Nenek pengen kita semua ada disana. Jangan
merajuk Ra.”
Aku Mahadewi Aira. Saat ini aku dilanda
galau. Nenek memaksa keluargaku untuk menetap di rumahnya. Padahal 2 tahun yang
lalu, beliau seenaknya menyuruh Ayah untuk mandiri dengan mengurus keluarganya
tanpa campur tangan darinya.
Sebenarnya Ayah hanya seorang pengusaha
kecil yang sedang memajukan usahanya di kota ini. Sejak dulu Ayah memang
menaruh minat pada perdagangan barang-barang teknologi. Tapi Kakek menolak
tegas. Kakek juga seorang pengusaha. Ia lebih tertarik di bidang jasa
pelayanan. Dan itu tidak menurun pada Ayah, anak satu-satunya beliau.
Kakek meninggal sebulan yang lalu, itu
alasan utama Ayah memaksa kami ikut dan tinggal bersama Nenek. Meskipun Nenek
bawel dan sering mengatur, aku tahu dia sangat sayang padaku dan Kakak
perempuanku, Aluna. Tapi alasan utamaku adalah hubunganku dengan seorang
laki-laki yang baru aku jalani sebulan terakhir.